Edisi Kelebat

Kelebat 1

Akhirnya kaubuka juga penggalan-penggalan kisah yang disimpan bertahun-tahun lamanya itu. Berkelebat dalam garis-garis nasib. Menggiringmu ke dermaga batinku. Ingatanku kembali menyapu ruangan sesak yang membekap dirimu dan diriku di awal pertemuan kita. ”Astaga, negeri apa ini? Sempit. Dan mengapa manusia betah bertahan disini? Lalu, untuk apa kita kemari?”
Awal November, percakapan kita dimulai. “Kalau kau takut mati, jangan hidup. Jika telah hidup harus siap menghadapi mati,” katamu. Tanganku menggaris-garis meja kayu dengan cerutu. ”Apakah aku buruk? ,” tanyaku. ”Tidak. Kau baik. Tak pernah aku melihat orang sebaik dirimu. Dan kau juga cantik.” Aku membuang napas. Sementara kau melebarkan tanganmu. ”Lepaskanlah lalu hiasi rumahmu dengan bunga-bunga yang kau tanam sendiri.” Darahku berdesir, getir.

Kelebat 2

Aku tergantung pada dahan-dahan jalanmu. Terhalang emosi. Terserah aku bulan atau bunga matahari. Merindu tak pernah di batas bumi. Aku menggeruk dadamu mencari hati. Disana aku tak mau pergi, ada cinta, aku tak merasa sepi.

Kelebat 3

Dalam monolog yang kurangkai sekilas. Kadang seperti tidak berarti, seakan merasa dikhianati dan tanpa ekspresi. Menjelmanya menjadi bintang yang sendiri, menahan-nahan rindu. Menyerupai aku. Oh, cemburu.
Tak perlu minta izin membersihkan bajumu. Aku tak akan lelah menyembunyikan rinai-rinai tangisku. Jika siang disiram panas, senja diguyur hujan. Payungku tidak cukup besar menampung seratus orang.

Kelebat 4

”Sejak kapan kau bertanya?”
Dan kau memberatkan kaji
Berjanji,nanti.

29 Desember 2007

: Haluan, 27 April 2008

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.